Telu Empu

URL Cerital Digital: https://repository.stkippgritrenggalek.ac.id/file/download/204?__cf_chl_tk=QImRyExCMhOHL5R2IgTf1gW59igNHBjbl5B6Caoo0XE-1754555268-1.0.1.1-FDY3MhRFOTxUnMI8U3v9cra1oe7MnIkWAdR5DqLQz_E

Di masa ketika hutan-hutan Blitar masih lebat dan belum tersentuh manusia, hidup tiga orang empu sakti yang terkenal karena kemampuan mereka dalam menempa logam dan membuat senjata. Mereka adalah Punjung Panangkaran, Soro Ito, dan Titi Pati. Ketiganya bukan hanya pandai membuat keris, tetapi juga dikenal sebagai orang bijak yang memahami keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan.

Suatu hari, mereka menerima perintah dari Cokro Sumadi, seorang pemimpin besar yang sedang berupaya memperluas wilayah kekuasaannya. Cokro Sumadi mengutus mereka bersama dua tokoh lain, Barat Ketigo dan Mergo Ayu, untuk pergi ke wilayah selatan, tepatnya ke daerah yang kini dikenal sebagai Blitar. Tugas mereka adalah membabat hutan, membuka lahan, dan menjadikan tanah itu sebagai tempat baru yang makmur dan damai.

Perjalanan mereka panjang dan penuh rintangan. Mereka menembus hutan rimba yang gelap, melewati sungai-sungai jernih, dan beristirahat di bawah pohon besar yang dipenuhi buah-buahan liar. Pohon-pohon di hutan itu begitu banyak dan beraneka rupa. Ada yang menghasilkan buah manis, ada pula yang menjadi sumber kayu yang kuat. Punjung Panangkaran dan rekan-rekannya sering memanfaatkan hasil hutan itu untuk bertahan hidup selama perjalanan. Mereka percaya bahwa segala yang tumbuh di bumi memiliki manfaat, asalkan diambil dengan rasa syukur dan tidak serakah.

Namun, di tengah perjalanan, perbedaan pandangan mulai muncul di antara mereka. Barat Ketigo, yang dikenal ambisius, ingin menggunakan kekuatan keris pusaka yang mereka bawa untuk mempercepat pekerjaan membabat hutan. Ia yakin bahwa dengan kekuatan magis keris, mereka bisa menaklukkan alam dan memperluas wilayah dengan cepat.

Sebaliknya, Punjung Panangkaran dan yang lainnya mengingatkan bahwa Cokro Sumadi telah berpesan agar mereka tidak bergantung pada kekuatan keris. Kekuatan sejati, kata Cokro Sumadi, bukan berasal dari senjata, tetapi dari ketulusan hati dan kerja keras manusia. Namun, Barat Ketigo tidak mau mendengar. Ia merasa dirinya lebih unggul dan mulai menggunakan keris itu tanpa kendali.

Hari demi hari, hawa aneh mulai terasa di sekitar mereka. Hutan yang dulu terasa sejuk kini sering diselimuti kabut tebal. Angin berputar-putar tanpa arah, dan suara burung-burung menghilang. Punjung Panangkaran merasa ada yang tidak beres. Ia tahu bahwa keris itu memiliki kekuatan besar, namun jika digunakan dengan niat yang salah, kekuatan itu bisa berbalik menjadi petaka.

Dan benar saja, bencana itu akhirnya datang.

Suatu malam, ketika keempat empu dan Mergo Ayu berkumpul di rumah sederhana milik Barat Ketigo, suasana terasa tegang. Barat Ketigo memamerkan kerisnya yang berkilau tajam, seolah menunjukkan betapa kuat dirinya sekarang. Mergo Ayu, istrinya yang lembut, mencoba menenangkannya. “Sudahlah, suamiku,” katanya lirih, “keris itu bukan untuk disombongkan. Gunakan kekuatanmu untuk kebaikan, bukan kebanggaan.”

Namun, kata-kata itu justru memicu amarah Barat Ketigo. Dalam kekalutannya, ia mengayunkan keris itu tanpa sadar. Dalam sekejap, bilah keris yang berisi kekuatan gaib itu menusuk tubuh istrinya sendiri. Mergo Ayu terjatuh, dan seketika darahnya menetes ke tanah. Saat itu juga, cahaya dari keris memudar dan suara angin bergemuruh di luar rumah. Alam seolah menangis menyaksikan tragedi itu.

Punjung Panangkaran, Soro Ito, dan Titi Pati hanya bisa menatap pilu. Mereka tahu, inilah akibat dari keserakahan manusia terhadap kekuasaan. Dengan penuh duka, mereka mengambil keputusan untuk mengubur Mergo Ayu di bawah pohon besar di tepi hutan. Di sekitar tempat itu, tumbuh pohon-pohon rindang yang berbuah lebat seolah menyerap kesedihan yang tertinggal di tanah tersebut.

Setelah peristiwa itu, ketiga empu memutuskan untuk tinggal di wilayah itu dan menebus kesalahan sahabatnya dengan mengajarkan penduduk cara hidup yang selaras dengan alam. Mereka mengajarkan bagaimana memanfaatkan hasil hutan dengan bijak, mengambil kayu secukupnya untuk membangun rumah, dan memetik buah hanya ketika sudah matang. Hasil hutan itulah yang kemudian menjadi sumber pangan utama masyarakat sekitar Tlumpu.

Waktu berlalu, dan wilayah itu berkembang menjadi pemukiman yang ramai. Penduduk menyebut tempat itu “Tlumpu”, berasal dari kata “Telung Empu” yang berarti “Tiga Empu”, untuk mengenang tiga tokoh yang menanamkan nilai kebijaksanaan dan keseimbangan hidup. Di tempat itu, buah-buahan tumbuh subur, dan hutan di sekitarnya menjadi sumber kehidupan bagi warga yang menjaga kelestariannya.

Kisah Telu Empu menjadi pengingat bagi masyarakat Blitar bahwa alam harus diperlakukan dengan hormat. Dari tanah, kayu, dan buah-buahan, manusia memperoleh kehidupan, tetapi jika keserakahan menguasai hati, maka alam dapat menjadi saksi murka yang membawa bencana.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.