Terkenal dengan Dumbeg, Begini Sejarah Desa Kesamben Tuban yang Diambil dari Nama Pohon Kesambi

URL Cerital Digital: https://bloktuban.com/2023/09/20/terkenal-dengan-dumbeg-begini-sejarah-desa-kesamben-tuban-yang-diambil-dari-nama-pohon-kesambi-36579.html#:~:text=Terkenal%20dengan%20Dumbeg%2C%20Begini%20Sejarah,Diambil%20dari%20Nama%20Pohon%20Kesambi

Di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, terdapat sebuah desa bernama Kesamben. Luasnya mencapai 660 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 5.310 jiwa. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari tanah, bekerja sebagai petani yang menanam padi dan jagung. Namun, di balik kesederhanaan itu, Desa Kesamben menyimpan kisah panjang yang sarat makna, dimulai dari sebuah pohon bernama kesambi.

Konon, dahulu kala ada sebuah perkampungan di selatan Gunung Lai. Suatu hari, gunung itu meletus dengan dahsyat. Lahar panas mengalir menutupi pemukiman, membuat seluruh warga berlarian menyelamatkan diri ke arah tenggara dan timur. Mereka akhirnya menemukan sebuah hutan yang dipenuhi pohon kesambi. Di tempat itulah mereka menetap dan membangun kehidupan baru. Karena wilayah itu banyak ditumbuhi pohon kesambi, maka lahirlah nama Desa Kesamben.

Pohon kesambi (Schleichera oleosa) bukanlah pohon biasa. Buahnya dapat dimakan segar atau diolah menjadi asinan, jus, bahkan rujak. Kandungan kalsium, fosfor, dan serat di dalamnya sangat baik bagi kesehatan tulang dan pencernaan. Daunnya dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan sekaligus membantu pencernaan, sementara minyak dari bijinya berguna dalam berbagai olahan kuliner. Dengan segala manfaat itu, pohon kesambi dianggap sebagai simbol ketahanan pangan sekaligus penopang kesehatan masyarakat.

Selain kisah asal-usul, Desa Kesamben juga memiliki jejak sejarah yang erat dengan perjuangan tokoh agama. Tersebutlah Mbah Buyut Santri, seorang ulama dari Muntilan, Jawa Tengah, yang datang ke Tuban pada masa Kerajaan Mataram. Beliau menyebarkan ajaran Islam hingga banyak penduduk memeluk agama baru. Desa berkembang pesat, namun suatu ketika malapetaka menimpa.

Wabah mengerikan bernama “Sogok Petek Silit Mancur” atau muntaber menyebar cepat. Orang yang terserang mengalami demam tinggi dan meninggal hanya dalam semalam. Untuk mengatasi wabah, Mbah Buyut Santri mengutus seorang pande besi bernama Cokriyo pergi ke Blitar mencari tumbal penangkal. Ia kembali dengan dua pusaka, Treppan dan Watusoko. Treppan berasal dari kata “trep” yang berarti mancep atau tertanam dan “pan” yang bermakna mapan, melambangkan harapan agar penduduk selalu hidup sejahtera. Watusoko berasal dari kata “watu” yang berarti batu dan “soko” yang berarti cagak atau tiang, sebagai penyangga agar banjir lahar tidak lagi melanda.

Kedua pusaka itu ditanam di dua lokasi berbeda, Treppan di tengah desa dan Watusoko di pinggir desa. Ajaibnya, wabah pun sirna dan kehidupan kembali pulih. Masyarakat lalu berencana membangun sebuah masjid dengan batu putih yang dikumpulkan bersama. Namun sebelum selesai, Mbah Buyut Santri wafat. Tempat yang seharusnya menjadi masjid akhirnya hanya dikenal sebagai “semigit”, yang sebenarnya berasal dari kata “mesijid”. Hingga kini makam beliau masih dihormati, terletak di pinggir timur desa dan disebut warga sebagai cungkup.

Selain kisah sejarah dan tokoh ulama, Desa Kesamben juga dikenal dengan pangan khasnya, yaitu dumbeg. Kudapan ini terbuat dari tepung beras yang dicampur santan dan gula merah, kemudian dibungkus dengan daun lontar pohon siwalan. Dumbeg biasa dijual di pasar tradisional atau disajikan dalam perayaan tertentu, menjadi pelengkap identitas desa di samping pohon kesambi yang menjadi asal-usul namanya.

Dengan segala kisahnya, Desa Kesamben tidak hanya dikenal sebagai penghasil jagung dan padi, tetapi juga sebagai desa yang mengikat sejarah, kepercayaan, dan pangan tradisional dalam satu kesatuan. Pohon kesambi tetap menjadi simbol kehidupan, pengobatan, dan pangan, sementara dumbeg menjadi bukti nyata bahwa budaya dan alam bisa berpadu menghadirkan warisan kuliner yang khas.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.