
Di sebuah desa yang tak jauh dari Wendit, hiduplah seorang ayah yang sedang berjuang melawan penyakit lumpuh akibat luka luka pertempuran di Kuto Bedah. Meski banyak tabib dan dukun telah mencoba mengobatinya, tidak ada satu pun yang berhasil mengembalikan kekuatannya. Dalam keadaan hampir putus asa, ia mendengar kabar tentang seorang tukang air yang disebut sebut mampu menyembuhkan penyakit dengan air yang dibawanya. Tukang air itu dikenal sebagai orang suci di Wendit, meskipun masyarakat juga tahu bahwa penampilannya berbeda dan tubuhnya membungkuk.
Karena tidak mampu bepergian jauh, sang ayah mengutus putri sulungnya, Kariati, untuk pergi meminta air penyembuh. Sebelum berangkat ia berkata kepada putrinya bahwa mereka tidak memiliki banyak uang. Ia meminta Kariati untuk bersikap sopan kepada si tukang air dan berjanji bahwa ketika ia sembuh dan dapat kembali bekerja, ia akan membalas kebaikan itu. Kariati mengenakan pakaian terbaiknya, membawa kendi tembaga ke dalam selendang, dan berangkat menuju Wendit.
Sesampainya di sana, Si Bungkuk sangat terpukau oleh kecantikan Kariati. Ia menawarkan air penyembuh hanya jika Kariati bersedia menjadi istrinya. Mendengar itu Kariati merasa tersinggung. Ia menganggap mustahil memperistri seseorang yang penampilannya tidak sesuai dengan standar kecantikannya. Ia menolak, dan justru meminta diberi kereta dan kuda agar ia tidak perlu pulang berjalan kaki. Tanpa disangka, permintaannya langsung terwujud begitu saja. Kereta dan kuda muncul tepat di depannya. Tanpa memikirkan keanehan itu, ia naik dan segera pergi. Namun kuda itu berlari terlalu cepat dan tidak terkendali. Kereta melaju liar melalui hutan, ranting ranting merobek bajunya, dan akhirnya menabrak batu besar. Kereta terjungkal dan Kariati tewas bersama kuda yang menariknya di bawah pohon Manggis raksasa.
Ketika putri sulungnya tak kunjung pulang, sang ayah mengutus putri keduanya, Abdiah. Ia pun berdandan rapi dan membawa kendi tanah liat. Namun saat tiba di Wendit, ia mendapati Si Bungkuk sedang tertidur membelakanginya. Alih alih menunggu dengan sopan, Abdiah justru mengambil tanah liat dan melemparkannya ke punggung Si Bungkuk. Ia terus melempari hingga lelaki itu terbangun terkejut. Bukannya meminta maaf, Abdiah malah menertawakan kebingungannya.
Meski kesal, Si Bungkuk tetap terpesona pada kecantikan gadis itu. Ia menawarkan air dengan syarat yang sama. Abdiah menolak dengan sombong. Ia mengejek, tetapi berkata ia bisa menari untuknya jika itu membuatnya senang. Baru saja kata kata itu terucap, tubuh Abdiah tiba tiba bergerak sendiri. Kakinya menari tanpa kendali, memutar semakin cepat, seolah angin puting beliung menariknya masuk ke dalam pusarannya. Rambutnya terlepas dan berputar seperti kipas. Ia menjerit, ingin berhenti, tetapi tubuhnya terus bergerak liar tanpa arah. Pada akhirnya, tubuh yang tak terkendali itu menabrak pohon Belimbing dan hancur seketika.
Dalam kisah ini, pohon belimbing menjadi saksi bisu kesombongan dan kelalaian manusia. Buah belimbing adalah pangan lokal yang sering digunakan masyarakat sebagai bahan masakan atau dimakan segar. Pohonnya tumbuh subur di tanah Malang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari hari warga. Namun dalam cerita rakyat ini, pohon belimbing menjadi batas akhir perjalanan seorang gadis yang tidak menghargai tata krama dan ketulusan orang lain.
Cerita Tiga Gadis mengingatkan bahwa kesombongan dapat mengantarkan seseorang pada kehancuran. Kearifan lokal mengajarkan bahwa dalam meminta pertolongan, manusia harus rendah hati dan sopan. Alam yang menyediakan buah belimbing sebagai penopang pangan juga menjadi pengingat bahwa setiap bagian dari lingkungan memiliki peran spiritual dalam kehidupan masyarakat. Kisah ini mengajak pembaca untuk mensyukuri anugerah alam dan menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk, sebab keharmonisan hanya dapat tercipta ketika manusia memahami batas batas dirinya.