Tradisi Mendhem Golekan

URL Cerital Digital: https://www.depokpos.com/2023/12/mengenal-tradisi-menyembelih-boneka-di-desa-kandangan-kediri/#:~:text=Mengenal%20Tradisi%20Menyembelih%20Boneka%20di%20Desa%20Kandangan%20Kediri.

Di pedalaman Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, terdapat sebuah tradisi yang tumbuh seiring denyut kehidupan warganya. Tradisi itu dikenal dengan nama mendhem golekan. Bagi masyarakat setempat, mendhem golekan bukan sekadar perayaan, melainkan penanda penting hubungan manusia dengan alam, pangan, dan kebersamaan. Cerita rakyat yang berkembang di Kandangan menuturkan bahwa tradisi ini bermula dari kebiasaan masyarakat merayakan panen dan peristiwa besar dalam kehidupan dengan cara sederhana. Pada masa lalu, ketika hasil ladang menjadi penentu utama keberlangsungan hidup, warga Kandangan meyakini bahwa kegembiraan harus dibagikan bersama agar rezeki tidak terputus. Dari keyakinan itulah boneka beleh diciptakan, sebagai simbol suka cita dan harapan.
Boneka-boneka itu dibuat dari bahan alam yang mudah dijumpai di sekitar desa. Daun pisang, serat tanaman, kulit kayu, dan anyaman sederhana dirangkai dengan penuh ketelatenan. Namun yang paling penting bukanlah bonekanya, melainkan apa yang mengiringinya. Setiap mendhem golekan selalu disertai hidangan pangan tradisional yang diolah bersama oleh warga. Nasi dari padi ladang, jajanan dari umbi-umbian, serta lauk hasil kebun menjadi sajian utama yang dinikmati bersama. Dalam cerita lisan para tetua desa, disebutkan bahwa pangan dalam tradisi beleh boneka adalah lambang kehidupan itu sendiri. Makan bersama di bawah iringan pawai boneka dipercaya dapat mempererat persaudaraan, menghapus perselisihan, dan membawa keberkahan bagi keluarga yang merayakan. Oleh karena itu, tradisi ini sering hadir dalam pernikahan, kelahiran, atau perayaan panen sebagai wujud rasa syukur atas kecukupan pangan. Pembuatan boneka juga menjadi ruang pendidikan budaya. Anak-anak dilibatkan sejak awal, mulai dari mengumpulkan bahan hingga membantu menyiapkan hidangan. Mereka diajarkan bahwa pangan tidak datang dengan sendirinya, melainkan hasil kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan. Dari dapur-dapur sederhana itulah nilai gotong royong tumbuh dan diwariskan.
Seiring waktu, mendhem golekan berkembang menjadi daya tarik yang dikenal luas. Wisatawan yang datang tidak hanya menyaksikan pawai warna-warni, tetapi juga ikut menikmati hidangan khas Kandangan yang disajikan secara terbuka. Pangan kembali memainkan peran penting sebagai jembatan antara pendatang dan warga, memperkenalkan rasa, cerita, dan cara hidup masyarakat setempat. Di tengah arus modernisasi, masyarakat Kandangan tetap menjaga esensi tradisi ini. Inovasi dilakukan tanpa menghilangkan makna dasar. Boneka boleh berubah bentuk, penyajian boleh lebih rapi, tetapi pangan lokal tetap menjadi pusat perayaan. Hal ini menjadi penegasan bahwa identitas budaya tidak dapat dipisahkan dari apa yang dimakan dan bagaimana makanan itu dibagikan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.