Upacara Kasada

URL Cerital Digital: https://timurjawa.home.blog/2016/11/20/upacara-kasada-warisan-masyarakat-tengger-pada-dunia

Di kaki Gunung Bromo, pada malam keempat belas bulan Kasada, desa desa Tengger mulai dipenuhi cahaya obor dan suara langkah ribuan warga yang bersiap melaksanakan upacara suci. Upacara ini disebut Kasada, sebuah hari raya kurban yang diwariskan turun temurun oleh masyarakat Tengger. Dalam tradisi ini, hasil bumi pertanian dan peternakan menjadi persembahan utama yang dibawa dengan penuh hormat menuju kawah Bromo. Bagi masyarakat Tengger, pangan bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi juga wujud syukur dan ikatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan kekuatan alam semesta.

Malam Kasada dimulai dengan persiapan sesaji. Beragam hasil bumi seperti kentang, bawang putih, kubis, dan jagung ditata di dalam ongkek yaitu wadah persembahan yang dibuat dari bambu. Selain itu ada pula hasil peternakan seperti ayam dan kambing yang dibawa sebagai bentuk kurban. Semua bahan pangan itu dipilih dari hasil panen terbaik karena diyakini bahwa alam akan membalas ketulusan hati dengan berkah yang berlimpah. Masyarakat Tengger percaya bahwa pangan yang mereka hasilkan berasal dari kemurahan alam sehingga pemberian kembali kepada alam adalah tindakan syukur yang tertinggi.

Menjelang fajar, rombongan warga berjalan menyusuri Segara Wedhi yaitu lautan pasir yang luas dan sunyi. Suara langkah kaki mereka bergema di antara dinginnya angin pegunungan. Pura Luhur Poten berdiri tegak di tengah pasir, menjadi titik perhentian untuk memanjatkan doa sebelum kurban dilemparkan ke kawah. Pemandangan ini selalu menghadirkan suasana sakral yang sulit dilupakan. Asap kawah yang naik perlahan seolah menyambut kedatangan ratusan sesaji yang dibawa dengan penuh ketulusan.

Setelah doa selesai, warga melanjutkan perjalanan ke bibir kawah. Di sinilah kurban berupa hasil bumi dan hasil ternak dilemparkan. Kentang, sayuran segar, dan hasil kebun lainnya jatuh ke dalam perut kawah Bromo. Aksi melempar sesaji ini bukan sekadar simbol pengorbanan, tetapi juga doa agar tanah tetap subur, panen tetap baik, dan peternakan tetap hidup. Pangan adalah sumber kehidupan dan dengan memberikannya kembali kepada alam masyarakat Tengger menjaga hubungan timbal balik yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Upacara Kasada juga menjadi momen penting bagi calon dukun Tengger yang akan mengikuti ujian mulunen. Mereka harus melalui proses spiritual di Pura Luhur Poten sebelum resmi menerima tugas sebagai penyembuh dan penasihat adat. Bagi masyarakat Tengger dukun memegang peran penting dalam kehidupan sehari hari. Mereka adalah penjaga moral, penasehat dalam masalah keluarga, hingga pemimpin ritual adat. Semua berjalan harmonis karena masyarakat Tengger masih menjunjung tinggi musyawarah dan kepatuhan pada adat.

Kehidupan sosial masyarakat Tengger terkenal damai. Perselisihan jarang terjadi dan jika ada permasalahan biasanya diselesaikan melalui kepala desa atau pemangku adat. Apabila seseorang melakukan kesalahan, cukup dengan disatru yaitu tidak diajak bicara oleh warga sehingga ia sadar dan memperbaiki perilaku. Kedisiplinan dalam memenuhi kewajiban seperti membayar pajak, mengikuti kerja bakti, dan menjaga kebersihan desa adalah nilai yang terus terjaga hingga kini.

Upacara Kasada bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pengingat tentang hubungan manusia dengan sumber pangan. Hasil panen yang melimpah berasal dari tanah subur Tengger, dari hujan yang turun, dari angin gunung yang membawa kesegaran, dan dari kerja keras para petani dan peternak. Dengan mempersembahkan pangan terbaik mereka ke kawah Bromo, masyarakat Tengger menunjukkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Dari Kasada kita belajar bahwa pangan adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan alam. Tradisi ini mengajarkan bahwa rasa syukur bukan hanya muncul dalam kata kata, tetapi juga tindakan nyata menjaga kesuburan tanah dan merawat lingkungan. Ketika masyarakat memberikan kembali hasil bumi kepada alam, mereka meneguhkan keyakinan bahwa kehidupan hanya dapat berjalan seimbang jika manusia menghormati sumber penghidupannya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.