Watu Ungkal dan Sungai Banyu Nget

URL Cerital Digital: https://nggalek.co/2018/03/06/melacak-sejarah-kota-trenggalek-dari-aliran-sungai-2/

Di ujung selatan Trenggalek, terdapat sebuah daerah yang dahulu masih berupa hutan lebat dengan aliran sungai yang jernih dan belum banyak tersentuh manusia. Sungai itu dikenal sebagai Sungai Banyu Nget, sebuah tempat yang pada masa lalu dianggap keramat karena menjadi pusat ritual dan tempat semedi bagi warga setempat. Pada tahun 1960-an, wilayah ini masih dipenuhi suara alam yang murni. Gemericik air mengalir dari celah-celah batu, kicauan burung melintas di antara bambu dan pepohonan rindang, serta udara hutan yang sejuk menemani perjalanan siapa pun yang melintas.

Salah satu hal yang membuat Sungai Banyu Nget terkenal adalah keberadaan batu-batu besar yang disebut watu ungkal. Batu-batu ini digunakan sebagai alat pengasah untuk menajamkan pisau, sabit, dan alat pertanian lainnya. Watu ungkal merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dusun Ketro, karena alat pertanian yang tajam menjadi kebutuhan dasar untuk mengolah lahan, menebang bambu, atau memotong hasil panen. Dengan demikian, watu ungkal berperan mendukung produktivitas pangan masyarakat, meski secara tidak langsung.

Di sepanjang Sungai Banyu Nget, terdapat pula punden keramat yang konon berada di bawah penjagaan seorang juru kunci bernama Kosuro. Banyak orang datang membawa sesaji dan melakukan ritual sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan alam yang diyakini menjaga daerah itu. Punden tersebut menjadi tempat di mana manusia dan alam saling terhubung dalam keseimbangan spiritual. Namun, seiring waktu dan kebutuhan masyarakat, pohon besar yang menaungi punden itu ditebang untuk digunakan sebagai bahan bangunan Masjid Amaludin dan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Setelah penebangan itu, punden tersebut mengalami kehancuran dan tidak lagi menjadi pusat ritual seperti sebelumnya.

Meski punden telah hilang, keindahan alam Sungai Banyu Nget tetap menjadi daya tarik utama. Di sepanjang aliran sungai dapat ditemukan bebatuan besar dengan bentuk unik, tebing curam yang kokoh, serta pepohonan bambu yang tumbuh lebat di kanan-kiri sungai. Air yang mengalir bening menyediakan sumber kehidupan bagi warga sekitar, yang menggunakan sungai sebagai tempat mengambil air untuk aktivitas rumah tangga, mengairi sawah, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan irigasi yang memadai, masyarakat Dusun Ketro mampu bertani secara mandiri meskipun berada jauh dari pusat pembangunan.

Di tengah keterpencilan wilayahnya, masyarakat Dusun Ketro justru menunjukkan kemandirian dan kekuatan yang luar biasa. Mereka mengolah tanah, menjaga hutan, dan memanfaatkan air sungai secara bijaksana. Kehidupan mereka menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Setiap tetes air yang mengalir dari Sungai Banyu Nget menjadi sumber pangan, penghidupan, dan kekuatan bagi mereka yang tinggal di sekitarnya.

Kisah tentang Watu Ungkal dan Sungai Banyu Nget mengajarkan kita bahwa alam menyediakan segala yang dibutuhkan manusia. Batu-batu sungai membantu mempertajam alat untuk mencari makan, sedangkan aliran airnya memastikan tanaman tumbuh subur sepanjang tahun. Kearifan lokal masyarakat Dusun Ketro tercermin dalam cara mereka menjaga sungai dan hutan, menghormati apa yang diberikan alam, serta tidak mengambil lebih dari yang mereka butuhkan.

Cerita ini mengingatkan bahwa kesejahteraan yang hakiki lahir dari hubungan yang seimbang antara manusia dan lingkungan. Sungai Banyu Nget adalah simbol kehidupan yang terus mengalir, memberikan pelajaran bahwa ketika kita menjaga alam, alam pun akan menjaga kita kembali.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.